• Special Potongan 15% dengan menggunakan Kode Promo : MEMBERBARU
Perbedaan Jamu, Obat Herbal Terstandar, dan Fitofarmaka

Perbedaan Jamu, Obat Herbal Terstandar, dan Fitofarmaka

Seiring perkembangan zaman, orang semakin menyadari akan pentingnya gaya hidup sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Dan tren gaya hidup sehat ini telah merambah ke seluruh aspek-aspek kehidupan sehari-hari seseorang, mulai dari konsumsi bahan pangan, olahraga, hingga konsumsi obat dan suplemen.

Coba saja lihat di supermarket, produk-produk yang diklaim organik (beras, buah, sayur dan lainnya) mungkin saja lebih laku meskipun harganya lebih mahal.

Dari sisi dunia kesehatan, kalau dulu masyarakat lebih fokus pada proses penyembuhan penyakit yang cepat, kini pandangan masyarakat telah bergeser ke proses pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit.

Sama hal-nya dengan obat-obatan. Kalau dulu orang tidak peduli dari mana suatu obat berasal, yang penting sembuh. Sekarang asal muasal obat juga menjadi faktor penting dalam menentukan obat yang akan dikonsumsi.

Tren penggunaan Obat Tradisional kini semakin marak, alasannya apalagi kalau bukan karena Obat Tradisional dianggap memiliki resiko efek samping rendah daripada obat sintetis (meskipun pandangan ini sebenarnya salah kaprah).

Indonesia sebagai negara agraris yang memiliki hasil bumi yang melimpah dan kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk ribuan jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat. Terbukti dengan banyaknya resep Obat Tradisional yang dibuat berdasarkan informasi turun-temurun dari nenek moyang sejak zaman dahulu kala (empiris).

Hingga sekarang, masyarakat masih menggunakan istilah Obat Tradisional atau Obat Herbal untuk menyebut obat yang berasal dari bahan-bahan alami. Namun perlu diketahui bahwa saat ini, istilah Obat Tradisional dan Obat Herbal tidak lagi relevan digunakan untuk obat-obatan yang berasal dari bahan-bahan alami. Mengapa?

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 7 tahun 2012, Obat Tradisional berarti bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Satu kata yang perlu diperhatikan disini adalah "turun-temurun" yang berarti ramuan tersebut sudah ada sejak lama. Namun seiring perkembangan teknologi dan kemajuan ilmu pengetahuan, ada banyak penemuan baru terkait khasiat suatu tanaman.

Baik itu berupa tanaman baru maupun penemuan zat aktif baru atau manfaat baru dari suatu tanaman yang sudah dikenal sebelumnya. Jadi karena perolehannya tidak secara turun-temurun, istilah Obat Tradisional tidak lagi tepat.

Istilah Obat Herbal juga sebenarnya kurang relevan, karena jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "Herbal" berasal dari kata dasar "Herba" yang berarti "tanaman terna". Sementara itu Obat Tradisional tidak hanya berasal dari tanaman, melainkan juga bisa berasal dari hewan maupun mineral. Jadi apa dong?
Mulai sekarang cobalah untuk mengakrabkan diri dengan istilah Obat Bahan Alam (OBA). Sumber Obat Bahan Alam sama seperti definisi Obat Tradisional, namun khasiatnya bukan hanya berdasarkan informasi empiris melainkan diperoleh juga melalui penelitian di masa kini.

Lalu apa saja yang termasuk dalam kategori Obat Bahan Alam?

Saya pernah menyinggung soal Obat Tradisional dalam artikel-artikel saya sebelumnya. Berdasarkan Keputusan Kepala BPOM tentang Ketentuan Pokok Pengelompokkan dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia, terbagi dalam tiga kategori berdasarkan cara pembuatan, klaim penggunaan dan tingkat pembuktian khasiatnya, yakni Jamu, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka. Ketiganya harus aman dan memenuhi persyaratan mutu yang berlaku. Lalu apa yang membedakannya?

  • Jamu
    Klaim khasiatnya dibuktikan secara turun-temurun (empiris) namun tidak boleh mengklaim memberikan kesembuhan penyakit. Diproduksi secara sederhana dengan peralatan yang sederhana dan bahan bakunya belum terstandar.
    Contohnya jamu beras kencur, dan jamu gendong lainnya.
  • Obat Herbal Terstandar
    Klaim khasiatnya dibuktikan secara ilmiah yaitu melalui uji pre-klinik (menggunakan hewan coba), bahan bakunya telah distandardisasi dan diproduksi di fasilitas yang modern (CPOTB).
  • Fitofarmaka
    Klaim khasiatnya dibuktikan secara ilmiah yaitu melalui uji pre-klinik dan uji klinik (diuji coba ke manusia/sukarelawan), meggunakan bahan baku yang sudah terstandar dan dibuat dengan menggunakan fasilitas produksi yang memenuhi standar Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).

Oleh karena ketatnya persyaratan Fitofarmaka, maka Obat Bahan Alam kategori ini setara dengan obat sintetis modern lainnya, serta bisa diresepkan oleh dokter. Namun sayangnya, jumlah produk Fitofarmaka di Indonesia masih sangat sedikit.

Untuk memudahkan konsumen mengetahui suatu obat bahan alam termasuk dalam kategori mana, ada logo yang berbeda yang tertera pada kemasan.

Selain persyaratan di atas, perlu diketahui juga bahwa Obat Bahan Alam memiliki persyaratan lainnya antara lain:

  1. Tidak boleh mengandung Bahan Kimia Obat (BKO), alkohol lebih dari 1% kecuali berbentuk Tingtur yang pemakaiannya harus diencerkan dulu, narkotika & psikotropika, serta bahan lain yang dapat membahayakan kesehatan.
  2. Tidak boleh dibuat dalam bentuk (sediaan) intravaginal (dimasukkan ke dalam vagina), tetes mata, parenteral (injeksi) dan suppositoria (dimasukkan ke dalam anus) kecuali untuk wasir. Jadi bila Anda menemukan atau menggunakan Obat Bahan Alam yang diklaim bisa memberikan efek cepat alias 'cespleng', patut dicurigai bahwa obat tersebut mungkin mengandung BKO. Pun bila Anda menemukan iklan Obat Bahan Alam dalam bentuk-bentuk seperti tersebut di atas, berarti obat tersebut ilegal. Tantangan Industri Farmasi dalam Mengembangkan Fitofarmaka

Seperti yang sudah saya singgung di atas, bahwa meskipun Indonesia memiliki potensi sumber bahan baku Obat Bahan Alam yang sangat besar (beda dengan bahan baku kimia obat yang hingga saat ini mayoritas masih impor dari negara lain), sayangnya justru jumlah Fitofarmaka kita masih sedikit. Hanya ada sekitar 9 Fitofarmaka yang beredar di Indonesia (mohon koreksinya dari rekan sejawat jika ada informasi yang lebih update).

Tanpa bermaksud promosi/endorse, contoh Fitofarmaka tersebut antara lain:
1. Nodiar (mengandung ekstrak daun jambu biji dan ekstrak kunyit) untuk pengobatan Diare.
2. Stimuno (mengandung ekstrak Meniran) untuk Immunomodulator (meningkatkan daya tahan tubuh).
3. Tensigard (mengandung ekstrak Kumis Kucing dan Seledri) untuk Hipertensi.
4. Rheumaneer (mengandung ekstrak Kunyit, Jahe, Temulawak, Temu Kunci, Cabe Jawa) untuk pengobatan Rematik.
5. X-Gra (mengandung ektrak Panax Ginseng, Ganoderma, Eurycomae) untuk Afrodisiak / disfungsi ereksi.
6. Inlacin (mengandung ekstrak Daun Bungur dan Kayu Manis) untuk Diabetes.
7. New Divens (mengandung ekstrak Meniran dan Jintan Hitam) untuk Immunomodulator, dan lainnya.

Lalu kira-kira mengapa Fitofarmaka kita masih sedikit? Rupanya masih ada banyak tantangan yang dihadapi oleh industri farmasi dalam mengembangkan Fitofarmaka mulai dari:

  1. Modal
    Karena industri farmasi umumnya padat modal/investasi, seperti biaya yang besar untuk membangun fasilitas produksi beserta segala teknologinya dan pengembangan bahan baku hingga uji pre-klinik dan uji klinik, Research & Development yang memakan waktu lama dan terbatasnya SDM yang ahli dan kompeten.
  2. Regulasi
    Karena pesyaratannya sama seperti obat modern, maka Fitofarmaka harus memenuhi regulasi BPOM terkait keamanan, kualitas dan efikasi obat yang dipantau tidak hanya saat pre-market tapi juga selama proses produksi hingga post-market.
  3. Sistem JKN
    Meskipun sistem pelayanan kesehatan seperti ini menguntungkan masyarakat, jika Fitofarmaka masuk dalam daftar obat JKN, tentunya industri farmasi harus bersaing soal harga yang murah karena sistemnya berupa lelang. Jika harga terlalu murah, besar kemungkinan tidak menutup modal pengembangan produk. Tapi mungkin akan lain jika jumlah tendernya sangat besar?
  4. Kompetitor Asing
    Rasanya cukup fair jika kita mengakui bahwa teknologi industri farmasi asing masih lebih kuat daripada kita. Besar kemungkinan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) yang lebih sanggup melakukan penelitian terhadap bahan-bahan alam dari Indonesia.

Tentunya sayang sekali kan jika sampai ada bahan alam kita yang dipatenkan oleh perusahaan asing karena modal dan teknologi yang tidak memadai?

Semoga kelak Fitofarmaka di Indonesia bisa semakin berkembang dan menjadi suatu komoditi yang kuat serta bisa dibanggakan hingga ke dunia internasional yang untuk mencapainya tentu tidak lepas dari dukungan pemerintah, industri dan pemodal, serta peran masyarakat seperti para petaninya.